Tips & Artikel

Nyeri Saraf Otot Disertai Kram, Kebas, Kesemutan Setelah Trail Run? Ini Cara Pemulihannya!

Trail run menawarkan sensasi berlari di alam terbuka dengan medan yang menantang. Namun, setelah menyelesaikan lintasan yang penuh tanjakan, turunan, dan permukaan tidak rata, sebagian pelari dapat mengalami keluhan berupa nyeri yang disertai kram, kebas, dan kesemutan. Berbeda dengan pegal otot biasa, keluhan ini sering kali berkaitan dengan iritasi atau tekanan pada saraf akibat aktivitas fisik yang intens.

Kondisi tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama jika gejalanya bertahan hingga beberapa hari setelah berlari. Karena itu, penting untuk memahami penyebab dan cara pemulihannya agar tubuh dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.


Penyebab Nyeri Disertai Kram, Kebas, dan Kesemutan Setelah Trail Run

Trail run memberikan beban yang lebih besar pada tubuh dibandingkan lari di permukaan datar. Medan yang tidak rata memaksa otot dan saraf bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan dan koordinasi gerakan.

Saat berlari dalam durasi panjang, saraf dapat mengalami tekanan atau iritasi akibat peradangan jaringan di sekitarnya. Kondisi ini dapat memunculkan gejala berupa nyeri yang disertai sensasi kebas dan kesemutan, terutama pada kaki, betis, telapak kaki, atau area paha.

Selain itu, kehilangan cairan dan elektrolit selama berlari juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kram otot. Sebuah tinjauan yang dipublikasikan dalam Sports Medicine menyebutkan bahwa gangguan fungsi neuromuskular dan kelelahan otot berperan dalam terjadinya kram pada atlet dan pelari.

Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Neurology menunjukkan bahwa tekanan atau cedera ringan pada saraf perifer dapat menyebabkan gejala sensorik seperti kesemutan, mati rasa, dan nyeri neuropatik.


Pentingnya Cooling Down Setelah Berlari

Banyak pelari langsung beristirahat setelah mencapai garis finis. Padahal, cooling down merupakan bagian penting dari pemulihan tubuh, terutama jika muncul nyeri yang disertai kram, kebas, dan kesemutan setelah trail run.

Pendinginan membantu menormalkan denyut jantung dan memperbaiki sirkulasi darah sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan otot serta saraf dapat berlangsung lebih optimal. Cooling down dapat dilakukan dengan berjalan santai selama 5–10 menit, dilanjutkan peregangan ringan pada betis, paha, dan pinggul.

Bila diperlukan, foam rolling juga dapat dilakukan untuk membantu mengurangi ketegangan otot dan rasa tidak nyaman setelah berlari. Namun, jika nyeri yang disertai kram, kebas, dan kesemutan tidak kunjung membaik, sebaiknya konsumsi obat pereda nyeri dan lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada gangguan pada saraf.


Konsumsi Protein dan Cairan untuk Recovery Tubuh

Pemulihan saraf dan otot membutuhkan dukungan nutrisi yang memadai. Setelah trail run, pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan untuk menggantikan kehilangan keringat selama berlari.

Selain itu, konsumsi makanan yang mengandung protein berkualitas dapat membantu proses perbaikan jaringan. Sumber protein seperti telur, ikan, ayam, susu, tempe, dan tahu dapat menjadi pilihan setelah berolahraga. Cukupi juga kebutuhan elektrolit, terutama jika berlari dalam cuaca panas.


Siapkan Obat Pereda Nyeri Sebagai Pertolongan Pertama

Untuk membantu meredakan nyeri yang disertai 3K akibat gangguan saraf, sangat penting untuk selalu menyiapkan obat pereda nyeri yang mengandung ibuprofen dan vitamin neurotropik sesuai aturan pakai. Ibuprofen membantu meredakan nyeri dan peradangan, sedangkan vitamin neurotropik seperti vitamin B1, B6, dan B12 berperan dalam menjaga fungsi saraf. Dengan penanganan yang tepat, proses pemulihan dapat berlangsung lebih optimal sehingga aktivitas sehari-hari dapat kembali dilakukan dengan nyaman.


Artikel Lainnya: Yuk Kenali Pentingnya Angkat Beban untuk Menjaga Kesehatan Otot dan Sendi



FAQ

1. Apa perbedaan nyeri saraf dan nyeri otot setelah trail run?

Nyeri otot biasanya terasa pegal, kaku, atau nyeri saat bergerak. Sementara itu, nyeri saraf sering disertai sensasi seperti tertusuk, terbakar, kebas, atau kesemutan.

2. Apakah kesemutan setelah trail run selalu berbahaya?

Tidak selalu. Kesemutan ringan yang muncul sementara dapat terjadi akibat tekanan pada saraf atau kelelahan. Namun, jika berlangsung lama atau disertai kelemahan otot, sebaiknya diperiksakan ke dokter.

3. Berapa lama pemulihan nyeri saraf setelah trail run?

Tergantung penyebab dan tingkat keparahannya. Keluhan ringan dapat membaik dalam beberapa hari, sedangkan iritasi saraf yang lebih berat mungkin memerlukan evaluasi medis dan waktu pemulihan yang lebih lama.



Daftar Pustaka

  1. Schwellnus MP. Cause of exercise associated muscle cramps (EAMC)—altered neuromuscular control, dehydration or electrolyte depletion? Sports Medicine. 2009;39(5):401–403.
  2. Colloca L, Ludman T, Bouhassira D, et al. Neuropathic pain. Nature Reviews Disease Primers. 2017;3:17002.
  3. England JD, Gronseth GS, Franklin G, et al. Practice parameter: Evaluation of distal symmetric polyneuropathy. Journal of Neurology. 2009;256(11):177–184.
  4. American College of Sports Medicine. Recovery for Endurance Athletes: Hydration, Nutrition, and Rest. Updated 2024.
  5. National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Peripheral Neuropathy Fact Sheet. Updated 2024.

ARTIKEL LAINNYA

Beli NEO rheumacyl