Badan terasa kaku saat malam hari dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kelelahan otot, masalah pada sendi,
hingga gangguan saraf. Jika keluhan disertai kesemutan, kebas, atau nyeri
seperti tertusuk, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda
adanya gangguan pada sistem saraf.
Tidak Selalu karena Otot atau Sendi, Saraf juga Bisa Menjadi Penyebab
Saraf berfungsi menghantarkan sinyal antara
otak, sumsum tulang belakang, dan seluruh tubuh. Ketika saraf mengalami
gangguan, proses penghantaran sinyal dapat terganggu sehingga memunculkan
berbagai keluhan, termasuk rasa kaku, nyeri, atau sensasi tidak nyaman pada
bagian tubuh tertentu.
Gangguan saraf dapat dipicu oleh berbagai
kondisi, seperti diabetes, cedera, kekurangan vitamin tertentu, atau tekanan
pada saraf akibat posisi tubuh yang kurang baik.
Hal ini juga dijelaskan dalam jurnal Peripheral
Neuropathy: A Practical Approach to Diagnosis and Symptom Management yang
menyebutkan bahwa gangguan saraf perifer dapat menimbulkan gejala berupa nyeri,
mati rasa, kesemutan, kelemahan otot, hingga gangguan fungsi sensorik yang
memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Karena itu, penting untuk tidak hanya berfokus pada otot atau sendi ketika badan terasa kaku, terutama bila keluhan sering berulang.
Kenali Gejala Gangguan Saraf yang Perlu Diwaspadai
Gangguan saraf umumnya tidak hanya menyebabkan rasa kaku. Ada beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Nyeri seperti tertusuk, terbakar, atau tersengat listrik.
- Kesemutan yang muncul berulang pada tangan atau kaki.
- Kebas atau mati rasa pada area tertentu.
- Otot terasa lemah atau mudah lelah.
- Sulit menggerakkan bagian tubuh tertentu secara normal.
Dalam jurnal Neurology dijelaskan bahwa gejala seperti nyeri neuropatik, kesemutan, dan baal merupakan tanda yang sering ditemukan pada gangguan saraf perifer. Jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus atau semakin berat, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Peran Vitamin Neurotropik (Vitamin B1, B6, dan B12) dalam Menjaga Kesehatan Saraf
Selain menerapkan gaya hidup sehat,
kesehatan saraf juga dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi, termasuk vitamin
neurotropik yang terdiri dari vitamin B1 (tiamin), vitamin B6 (piridoksin), dan
vitamin B12 (kobalamin).
Ketiga vitamin ini memiliki peran penting
dalam menjaga fungsi sistem saraf. Vitamin B1 membantu proses pembentukan
energi yang dibutuhkan sel saraf, vitamin B6 berperan dalam pembentukan
neurotransmiter atau zat penghantar sinyal antarsaraf, sedangkan vitamin B12
penting untuk menjaga lapisan pelindung saraf (mielin) agar penghantaran impuls
saraf tetap optimal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obat
pereda nyeri dengan kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 dapat membantu mendukung
kesehatan saraf, terutama pada kondisi yang berkaitan dengan gangguan fungsi
saraf.
Jika badan terasa kaku disertai
Artikel Lainnya: 5 Cara Menghilangkan Pegal di Kaki dan Paha Setelah Leg Day
FAQ
1. Apakah badan yang terasa kaku selalu disebabkan oleh gangguan saraf?
Tidak. Kekakuan dapat disebabkan oleh kelelahan otot, masalah sendi, atau
kurang bergerak. Namun, jika disertai
2. Apa fungsi vitamin B1, B6, dan B12 untuk saraf?
Vitamin B1 membantu pembentukan energi pada sel saraf, vitamin B6 berperan dalam pembentukan neurotransmiter, sedangkan vitamin B12 membantu menjaga lapisan mielin yang melindungi saraf.
3. Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?
Segera konsultasikan ke dokter apabila kekakuan berlangsung terus-menerus,
disertai nyeri hebat, kelemahan otot, kesemutan yang menetap, kebas, atau
mengganggu aktivitas sehari-hari.
Daftar Pustaka
- Hanewinckel
R, van Oijen M, Ikram MA, van Doorn PA. Peripheral Neuropathy: A
Practical Approach to Diagnosis and Symptom Management. Nature
Reviews Neurology. 2016.
- Finnerup
NB, et al. Neuropathic Pain: An Updated Grading System for Research and
Clinical Practice. Neurology. 2016.
- Calderón-Ospina
CA, Nava-Mesa MO. B Vitamins in the Nervous System: Current Knowledge
of the Biochemical Modes of Action and Synergies of Thiamine, Pyridoxine,
and Cobalamin. CNS Neuroscience & Therapeutics. 2020.
